Perubahan Partikel wa Dalam Bahasa Jepang

Partikel wa merupakan salah satu partikel yang membentuk sebuah kalimat dalam bahasa Jepang. Tanpanya, kita tidak akan mampu membentuk suatu kalimat dan menjelaskan sesuatu terhadap lawan bicara. Bisa dikatakan, partikel wa ini merupakan ibu dari semua partikel dalam bahasa Jepang.

Meskipun dalam beberapa kalimat selalu tidak dipakai, tetapi partikel wa bisa menjadi akar dalam pembelajaran menyusun sebuah kalimat dalam bahasa Jepang.

Tentunya, partikel wa juga memiliki perubahan dalam setiap kalimat yang digunakan, seperti menyusun kalimat positif, kalimat negatif, dan kalimat interogatif.

Tetapi sebelum masuk ke pembahasan utama kita, mari kita cari tahu dulu…

Apa itu Partikel wa

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, partikel wa tersebut terbentuk karena seseorang ingin menjelaskan sesuatu, terutama si subjek.

Subjek di sini adalah bisa saya, kamu, mereka, dan orang pertama tunggal atau jamak lainnya. Kata benda juga bisa dijadikan subjek jika kita ingin menjelaskan kata benda tersebut.

Dengan kata lain, partikel wa ini jika dibahasa Indonesia-kan maka bisa berarti “adalah”. Selanjutnya, mari kita bahas tentang perubahan pola kalimat yang menggunakan partikel wa.

Kalimat Positif

Kalimat positif merupakan kalimat yang menjelaskan sesuatu. Dalam bahasa Jepang, maka pola kalimatnya disusun seperti ini:

S + wa + O + desu

Dikutip dari Weihome Gakuen, berikut adalah contoh kalimatnya:

  • Watashi wa sensei desu

Mari kita bahas sedikit:

  1. Watashi artinya saya
  2. wa bisa berarti adalah
  3. sensei artinya guru
  4. desu tidak memiliki arti. Berfungsi sebagai kopula. Nanti dijelaskan lebih lanjut.

Jadi, arti dari kalimat di atas adalah: Saya adalah guru.

Itu merupakan kalimat positif yang menjelaskan si subjek yang seorang guru, dan begitulah adanya.

Kalimat Negatif

Kalimat negatif ini berfungsi untuk penyangkalan, bahwa si subjek bukanlah objek yang dimaksud. Untuk menyusun kalimatnya bisa menggunakan pola kalimat seperti ini:

S + wa + O + dewa arimasen

Kita coba menggunakan contoh kalimat sama seperti di atas, tetapi dalam versi kalimat negatif:

  • Watashi wa sensei dewa arimasen

Nah, kita coba bahas lagi:

  1. Arti dari watashi, wa, dan sensei sudah disebutkan di atas.
  2. dewa arimasen merupakan kopula, yaitu bentuk perubahan dari desu menjadi dewa arimasen.
  3. desu menunjukkan kalimat positif, dewa arimasen menunjukkan kalimat negatif.

Dengan kata lain, contoh kalimat di atas bisa kita artikan menjadi: Saya bukanlah seorang guru.

Kalimat Interogatif

Kalimat interogatif berfungsi sebagai kalimat tanya, yang mana jawabannya hanya membutuhkan dua buah pilihan, yaitu YA atau TIDAK. Lebih singkatnya, kalimat ini bisa digunakan sebagai konfirmator.

Kita lihat lagi contoh kalimatnya:

  • Anata wa sensei desu ka?

Sekarang kalimatnya sedikit agak berbeda, tetapi konteksnya masih sama kok! Kita bahas ya!

  1. Anata artinya Kamu
  2. wa dan sensei sudah dijelaskan di atas artinya.
  3. desu ka merupakan bentuk interogatif dari kopula desu.

Dengan kata lain, jika kita mendengar orang jepang menggunakan kata “desu ka”, maka itu berarti dia bertanya. Arti dari kalimat di atas: Apakah anda seorang guru?

Gampang kan?

Kesimpulan

Jadi, untuk menyusun sebuah kalimat positif menjadi negatif atau interogatif, yang berubah pokanlah pola kalimat wa, melainkan kopula desu yang terdapat di akhir kalimat, yaitu seperti ini:

  • Kalimat positif: desu
  • Kalimat negatif: dewa arimasen
  • Kalimat interogatif: desu ka

Untuk kali ini cukup sekian ya! Semoga dapat membantu anda yang mulai belajar bahasa Jepang. Semoga sukses!