Orang yang Berhak Menerima Zakat

Di antara suatu yang lumayan berarti buat dicermati dalam menunaikan Zakat merupakan membagikan ataupun menyalurkannya kepada orang yang betul- betul pas.

Dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 60 menarangkan kalau kalangan orang yang berhak menerima zakat terkumpul ke dalam 8 kalangan. 8 kalangan tersebut diseleksi bagaikan Mustahik Zakat secara universal, baik buat zakat fitrah ataupun zakat mal( harta).

1. Faqir

Secara bahasa, Faqir maksudnya merupakan tulang punggung yang patah. Dikatakan demikian sebab ketidakmampuannya menahan beban hidup dari pemasukan yang dia miliki. Sehingga diibaratkan bagaikan tulang punggung yang patah.

Sebaliknya bagi sebutan Fiqih, Faqir merupakan mereka yang tidak mempunyai pekerjaan serta pemasukan menentu sekalian tidak sanggup memadai kebutuhan tiap harinya. Sehingga menyebabkannya banyak mempunyai hutang.

2. Miskin

Sesungguhnya, bila dilihat dari undang- undang di Indonesia menimpa penafsiran fakir serta miskin merupakan sama. Ialah orang yang tidak mempunyai pemasukan ataupun mempunyai pemasukan tetapi tidak sanggup buat memadai kebutuhan tiap harinya dengan layak.

Misal, kebutuhan tiap harinya merupakan IDR 50. 000. Tetapi pemasukan yang dia bisa kurang dari itu( Misal IDR 40. 000, IDR 30. 000, ataupun apalagi tidak menentu di dasar dari kebutuhan pokok tersebut).

3. Amil Zakat

Amil zakat merupakan orang yang jadi panitia serta mengurusi zakat. Mereka mengurusi zakat mulai dari penjemputan hingga mendistribusikannya kepada kalangan orang- orang yang berhak menerima zakat.

Bagi BAZNAS: Amil Zakat merupakan mereka yang menemukan izin secara legal dari otoritas pemerintah yang berwenang menarik zakat dari seorang ataupun lembaga.

BACA JUGA  Bacaan Doa Memohon Ujan Lengkap Artinya

Hingga bila seorang tidak mempunyai izin yang legal baik dari BAZNAS ataupun dari organisasi yang terdapat di bawahnya misalnya LAZISNU serta LAZISMU, hingga dia tidak dapat dikatakan bagaikan Amil Zakat.

Baca Juga: Mengenal Pinjaman Syariah Tanpa Jaminan

4. Muallaf

Muallaf merupakan orang yang hatinya tergerak buat masuk Islam sebab pilihannya sendiri. Pasti tadinya sudah hadapi bermacam pergolakan batin yang sangat luar dapat sehingga memutuskan buat memeluk Islam.

Muallaf jadi bagian dari Mustahiq Zakat sebab sebagian alibi berikut:

Muallaf yang Imannya masih lemah. Sehingga pemberian Zakat merupakan wujud atensi serta kepedulian antar sesama Muslim yang dapat buatnya tenang, serta diharapkan bisa menebalkan Imannya.

Muallaf yang Imannya telah kokoh serta mempunyai jabatan yang strategis. Pemberian Zakat kepadanya diharapkan dapat menjadikan para pengikutnya tertarik dengan Islam serta pada kesimpulannya masuk islam.

Tercantum bagian dari Muallaf merupakan: Orang Islam yang hidupnya berdampingan dengan orang- orang kafir. Perihal ini sangat rentan sebab dapat buatnya turut serta tertarik ke dalam agama serta budayanya. Oleh sebab itu dia pula berhak buat menerima Zakat.

5. Memerdekakan Budak

Harta yang terkumpul dari zakat dapat digunakan buat memerdekakan budak. Dengan ini Islam memperlihatkan pelenyapan praktek perbudakan yang terdapat di muka bumi.

Sebaliknya teknis pembebasannya terdapat 2 metode, ialah:

Membagikan zakat kepada budak mukatab, ialah budak yang membuat perjanjian dengan tuannya kalau dirinya hendak membayar beberapa duit buat melepaskan dirinya sendiri dengan mencicil.

BACA JUGA  MASJID MOELDOKO KEDUNGMULYO JOMBANG

Membantu dengan membeli ataupun melepaskan budak secara langsung dengan duit zakat yang terkumpul dari para muzaki( orang yang harus membayar zakat).

6. Orang yang Terlilit Hutang( Gharim)

Dalam perihal ini, tidak seluruh orang yang mempunyai hutang masuk dalam jenis ini. Sebab terdapat banyak orang berhutang tetapi cuma buat berhura- hura, bukan buat kebutuhan pokok.

Bagi Imam Syafi’ i, terdapat 2 tipe orang yang masuk dalam jenis Gharim ini:

Orang yang hutang buat penuhi kebutuhan dirinya sendiri.

Orang yang hutang buat penuhi kebutuhan sosial.

7. Fi Sabilillah

Para Ulama’ berkata kalau yang diartikan Fi Sabilillah merupakan orang yang menjajaki aktivitas perang yang tujuannya buat menegakkan agama Islam.

Tetapi para ulama kontemporer berkomentar kalau definisi Sabilillah dikala ini tidak cuma pada lingkup perang saja. Tetapi pula dapat buat aktivitas amal serta ilmu yang mengarah ridho Allah.

Substansi dari pendistribusian zakat itu buat kebaikan agama Islam. Semacam pembuatan masjid, pembelajaran, dakwah Islam serta lain sebagainya.

8. Ibnu Sabil

Ibnu Sabil ataupun orang yang lagi dalam ekspedisi merupakan kalangan terakhir yang berhak menerima Zakat. Tetapi ekspedisi yang dicoba tidaklah ekspedisi yang bertujuan melaksanakan maksiat.

Bila dalam ekspedisi tersebut dia hadapi kehilangan bekal santapan. Dia berhak menerima zakat. Tujuannya merupakan buat menampilkan kalau Islam pula mencermati orang- orang yang terlantar.

Baca Juga: Memahami Pengertian Ibadah